Tampilkan postingan dengan label LKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LKS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2012

KISAH SKOLONG PEMUDA TAMPAN KELAS VII SEMESTER GASAL


Kisah Skolong Pemuda Tampan


Tersebutlah seorang anak muda bernama Skolong Reba Todo. Karena nadar kedua orang tuanya, Skolong yang tampan itu sudah direncanakan untuk dijodohkan dengan anak bibinya. Walaupun anak bibinya itu belum lahir, Skolong sudah disuruh ibunya untuk mulai tinggal bersama dengan bibinya. Maksud ibunya, kelak kalau bibinya melahirkan anak gadis yang cantik maka gadis itu langsung akan dijodohkan dengan Skolong.
Skolong pun berangkat menuju ke rumah bibinya. Ia diterima oleh bibinya dengan ramah. Bibinya sangat senang karena Skolong tampan dan rajin. Skolong membantu mencarikan kayu api. Ia pun rajin bekerja di kebun bersama pamannya.
Waktu itu bibinya sedang hamil. Tentu saja Skolong berharap bibinya melahirkan seorang putri cantik. Tetapi harapan tinggal harapan, tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan, ternyata, yang lahir bukanlah seorang putri cantik. Melainkan sebuah cue atau ubi hutan yang berbulu-bulu. Cue biasanya tumbuh begitu saja di hutan, tidak ditanam manusia dan juga tidak dipelihara manusia.
Paman, Bibi, dan Skolong tentu sangat sedih. Mereka tak habis pikir atas kelahiran si Cue. Tapi bagaimanapun makhluk itu adalah anak mereka. Mereka harus menerima dengan ikhlas. Lebih-lebih si Cue bisa bicara layaknya manusia.
Mereka berharap Skolong tetap bersedia menerima Cue sebagai calon istrinya. Namun, pemuda itu tidak mau. Skolong pun berniat untuk kembali ke rumah ibunya.
"Kakak Skolong," kata Cue, "kalau kau kembali ke rumah ibumu, aku juga ikut."
"Adik Cue! Jangan ikut aku!" kata Skolong. "Walaupun kau larang aku tetap pergi bersamamu."
"Aku akan bunuh kamu di jalan!" kata Skolong. "Walaupun aku dibunuh, aku tetap mengikutimu dan membantu ibumu," kata Cue.
"Ibuku tidak suka padamu karena kamu sebuah cue. Badanmu tidak berbentuk, kaki dan tanganmu tidak ada. "Bagaimana kamu bisa membantu ibuku? Lagi pula, badanmu kotor dan penuh bulu," demikian kata-kata Skolong.
Sambil berkata begitu, Skolong berkemas-kemas untuk segera kembali ke rumah orang tuanya. Si Cue pun ikut berkemas-kemas. Si Cue tidak malu dan tidak sakit hati sekalipun diejek oleh Skolong.
Skolong Reba Todo berjalan menuju ke kampungnya. Sekitar lima belas meter di belakangnya menyusul pula si Cue hendak menuju ke kampung Skolong. Di tengah perjalanan, kadang-kadang si Cue bergulir mendahului si Skolong, tetapi Skolong tidak mengetahuinya. Skolong mengira bahwa si Cue masih berada di belakangnya, tahu-tahu si Cue berada di depannya. Jika si Cue sedang berada di depan, seolah-olah Skolong melihat rombongan manusia yang berjalan dari arah berlawanan. Sebenarnya, rombongan itu adalah rombongan si Cue, tetapi skolong tidak mengenalnya. Ketika Skolong berpapasan dengan rombongan itu, beberapa orang bertegur sapa dengan kolong.
"Tuan-tuan, ada sebuah Cue yang mengikuti saya, kalau tuan-tuan melihatnya, bunuh saja atau lemparkan cue itu ke jurang yang gelap," pinta Skolong kepada rombongan tersebut.
Setiap ada perjumpaan seperti itu, Skolong dilirik seorang gadis cantik yang ada dalam rombongan. Dalam sekejap mata gadis cantik itu berlalu bersama dengan rombongannya, dan saat itu juga Skolong mendengar nyanyian seorang gadis. "Wahai Skolong, dalam perjalananmu yang jauh, kau lalui beberapa kampung, kau pandangi seorang gadis, betapa cintaku padamu, aku rindu belaianmu.
" Mendengar suara nyanyian itu, Skolong diam sejenak. Dipandanginya alam di sekitarnya, barangkali di sana ada seorang gadis yang sedang bernyanyi. Akan tetapi, di sekitarnya tiada seorang manusia pun. Yang ada hanyalah burungburung  berkicau. Skolong pun menoleh ke arah si Cue, siapa tahu si Cue juga bisa menyanyi. Akan tetapi, si Cue tak kelihatan.
Keluarga Skolong sibuk menyiapkan segala sesuatu. Mereka mengira bahwa Skolong akan datang bersama istrinya. Begitu pemuda itu masuk kampung, keluarganya tidak melihat seorang gadis berjalan dengan Skolong, yang dilihat hanyalah sebuah cue yang bergulir mengikuti Skolong.
"Saya tidak perlu disambut dengan meriah suara gong dan gendang," kata si Cue.
"Hai, Cue itu bisa bicara," kata orang kampung dengan penuh keheranan. Si Cue tidak perduli dengan kata-kata orang. Ia masuk ke rumah Skolong dan segera membantu orang tua Skolong untuk menanak makanan dan menimba air di pancuran.
"Oe. Inang," panggil si Cue kepada bibinya, "Aku pergi timba air." Bibinya sangat heran. Si Cue menggeret-geret wadah air yang kosong. Sampai di pancuran, ia menanggalkan kulitnya. Orang tidak melihatnya. Begitulah kerjanya setiap hari.
Dalam Minggu itu pada pesta wagal, yaitu salah satu pesta adat dalam tata cara perkawinan orang Manggarai. Dalam pesta itu akan diadakan pertandingan caci. Dalam pertandingan yang dimainkan kaum lelaki itu biasanya ada iringan pukulan gong dan gendang oleh kaum wanita, gadis-gadis biasanya membawakan tarian khas Manggarai.
Si Cue mengetahui pesta wagal yang disertai caci. Oleh karena itu, si Cue menyiapkan rombongannya. Ia berpura-pura pergi menimba air di pancuran. Di sana ia menanggalkan dan menyembunyikan kulitnya di bawah batu lempeng. Setelah itu, tiba-tiba muncullah serombongan manusia: tua muda, laki perempuan, pemuda dan gadis-gadis. Rombongan si Cue itu berarak-arak menuju ke halaman kampung, yaitu tempat berlangsungnya permainan caci.
"Rombongan dari mana ini?" tanya Skolong kepada orang-orang yang sekampung dengannya. 
"Mungkin dari kampung Rejeng," jawab seorang kampung. Rombongan yang dipimpin Cue sungguh menarik perhatian karena penuh dengan gadis cantik dan pemuda tampan.
Malam harinya Skolong bermimpi. Dalam mimpi ia disuruh untuk mengikuti si Cue ke pancuran. Ketika si Cue pagi-pagi buta hendak berangkat ke air pancuran, Skolong mengikutinya dan bersembunyi di sekitar pancuran. Dari persembunyian itu Skolong melihat si Cue menyembunyikan kulitnya di bawah batu lempeng. Setelah itu, muncullah serombongan manusia.
"Oo… ini rombongan si Cue," kata Skolong dalam hati. Begitu si Cue dan rombongannya berjalan menuju ke halaman kampung untuk mengikuti caci hari kedua, secara diam-diam Skolong mengambil kulitnya.
Pesta caci hari kedua pun segera dimulai. Si Cue yang telah berubah menjadi gadis cantik itu sedang menari dengan lenggak-lenggoknya di halaman. Semua mata memandangi kecantikannya.
Pada saat si Cue sedang asyik menari, Skolong meletakkan kulit si Cue di atas asap api, si Cue yang sedang menari tiba-tiba pingsan. Orang-orang terkejut dan Skolong pun segera menolongnya. Kulit Cue yang kena asap api itu segera dicelupkan ke dalam air lalu dibalutkan ke kepala gadis cantik yang pingsan itu. Pelanpelan gadis itu sadar. Setelah sadar, ia ditanya Skolong.
"Siapakah kau yang sebenarnya?" tanya Skolong. "Saya…anak bibimu," jawabnya pelan dan pasti.
Sekarang Skolong semakin mengerti, bahwa sebuah cue yang dilahirkan bibinya tempo hari ternyata seorang gadis cantik. Skolong agak merasa malu dan rikuh jika ingat betapa dulu ia mengejek si Cue dan memperlakukan gadis itu dengan sikap dan kata-kata kasar.
Namun si Cue tidak mendendam, pada dasarnya ia memang mencintai pemuda itu, maka ia tidak merasa terhina dan malu ketika diejek Skolong. Mereka segera dinikahkan dan akhirnya hidup bahagia hingga hari tua.

Sumber. MB Rahmyah Cerita Rakyat Indonesia Penerbit: Tertib Terang Surabaya.

LKS PEMBACAAN TEKS PERANGKAT UPACARA KELAS VII SEMESTER GASAL


LEMBAR KERJA SISWA

Nama              : ........................
Kelas              : ........................


1.    Berilah tanda jeda pada teks Pancasila berikut ini dengan benar!

PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
    perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


2.    Berilah tanda jeda pada teks UUD 1945  berikut ini dengan benar!


UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN
(Preambule)

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya Kemudian daripada itu, untuk membentuk pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dan suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

PEMBACAAN TEKS PERANGKAT UPACARA KELAS VII SEMESTER GASAL





Pembacaan Teks Perangkat Upacara

Aspek                       : Membaca
Standar Kompetensi  : 3. Memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara
                                      membaca.
Kompetensi Dasar     : 3.1. Membacakan berbagai teks perangkat upacara dengan
                                        intonasi tepat.

Membaca adalah suatu kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk kepentingan sendiri, membaca juga berfungsi untuk orang lain. Kegiatan membaca tidak dapat lepas dari kehidupan, contohnya kita setiap hari mendengar berita di radio, kita juga sering melihat pembacaan berita di televisi dengan gaya pembacaan yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan dari teks itu sendiri. Cara membaca yang tidak benar akan menimbulkan makna yang berbeda, hasilnya akan terdengar kurang jelas atau tidak dapat dinikmati dengan baik oleh pendengar. Teks resmi atau teks yang dibacakan pada acara resmi memiliki gaya pembacaan yang berbeda. Membaca teks upacara sekolah, sesuai dengan sifatnya yang resmi maka teks harus dibacakan dengan gaya yang terkesan resmi, tegas, jelas, dan khidmat.

Setiap hari Senin, di sekolah-sekolah selalu diadakan upacara bendera. Sekolah-sekolah juga mengadakan upacara peringatan pada hari-hari tertentu, seperti hari Sumpah Pemuda, hari Pendidikan Nasional, hari Pahlawan, hari Kebangkitan Nasional, dan sebagainya.

Tahukah kalian yang termasuk teks perangkat upacara? Benar, misalnya teks Pancasila, Pembukaan UUD 1945, doa, janji siswa. Membaca teks tersebut termasuk membaca nyaring. Artinya, membaca dengan mengeluarkan suara nyaring. Pelajaran 2 Peristiwa 15 Mengapa harus nyaring? Karena membaca teks jenis ini tidak ditujukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membacakan teks perangkat upacara seperti berikut.

1. Penempatan Jeda
Jeda adalah waktu penghentian sebentar dalam kalimat atau ujaran.
Perhatikan contoh berikut !
a. Semua peserta upacara / segera menyiapkan diri / di halaman depan sekolah //
b. Bahwa / sesungguhnya kemerdekaan itu / ialah hak segala bangsa //

2. Intonasi
Intonasi adalah perubahan nada sewaktu mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya.
Tanda ( / ) berarti intonasi naik, sehingga cara membacanya harus bernada naik. Tanda ( \ )
berarti intonasi turun, sehingga cara membacanya harus bernada turun.

3. Lafal
Lafal adalah cara orang, sekelompok orang atau masyarakat mengucapkan bunyi bahasa.
Berikut ini contoh pelafalan yang benar.
a. Biologi dilafalkan biologi bukan biolohi atau biyoloji.
b. TVRI dilafalkan te fe er i bukan ti fi er i
c. MTQ dilafalkan em te ki bukan em ti kyu
d. pantai dilafalkan pantay bukan panta-i

4. Sikap Percaya Diri
Membacakan teks perangkat upacara harus percaya diri. Hal ini penting karena dengan sikap tersebut maka pembacaan teks akan lancar. Kalimat-kalimat yang diucapkan tidak terputus- putus. Selain itu, dengan sikap percaya diri, maka napas tidak terengah-engah. Pernapasan juga dapat menentukan kuat lemah, panjang pendek, dan tinggi rendah pengucapan bunyi bahasa secara tepat. Di bawah ini disajikan contoh teks perangkat upacara. Perhatikan penjedaannya! kemudian berlatihlah dengan lafal dan intonasi yang tepat serta bersikap percaya diri!

Agar kamu dapat membaca teks-teks tersebut dengan benar, perhatikanlah hal-hal di
berikut.
1.  Bersikaplah tenang jangan gugup.
2.  Ucapkan setiap kata dengan jelas dan benar.
3.  Perhatikanlah intonasi kalimat agar terdengar jelas.
4.  Sesekali pandanganmu terarah kepada peserta upacara.
5.  Berbicaralah dengan keras, tetapi jangan berteriak.
6.  Bacalah teks-teks tersebut dengan lancar dan jangan tergesa-gesa.

Sebelum kamu melaksanakan tugas membaca teks tersebut di depan peserta upacara, berlatihlah membaca teks berulang-ulang sampai kamu dapat membaca dengan lancar. Minta tolonglah kepada salah seorang teman atau saudaramu untuk mendengarkan pendapat tentang kelancaran, kecepatan, sikap, intonasi, dan volume suaramu. Jika ada yang salah cara membacamu perbaikilah. Selain teks Pancasila dan UUD 1945, masih ada teks perangkat upacara yang lain, misalnya teks susunan acara upacara, teks ikrar siswa Indonesia, dan teks doa. Teks doa di setiap sekolah berbeda-beda karena setiap sekolah dapat menentukan sendiri teks doa.

Untuk melatih cara membaca teks perangkat upacara dengan benar, kamu dapat
menggunakan teks ikrar siswa Indonesia berikut yang biasa digunakan di sekolah-sekolah.



Ikrar Siswa Indonesia

      Kami siswa SMP Negeri 3 Jepon  berjanji:
  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
  3. Berbudi pekerti luhur dan senantiasa menjunjung tinggi nama baik sekolah.
  4. Hormat dan taat pada orang tua, bapak/ibu guru, karyawan tata usaha, sesama teman, sesama manusia.
  5. Menaati tata tertib sekolah yang berlaku.
  6. Rajin belajar dan senantiasa mengembangkan wawasan keilmuan serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.