Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2012

TIGA SURAT CINTA UNTUK BUNGA


Batam Pos
Minggu, 13 Januari 2008

Tiga Surat Cinta untuk Bunga
Cerpen: Heru Kurniawan

1.
Selama sebulan ini, sejak kisah cinta kita putus, aku sudah menulis surat cinta untukmu sebanyak tiga buah. Isinya sama, tentang cinta yang sia-sia. Namun, surat-surat ini tak akan kuberikan padamu. Cukup kutulis saja tentang perasaanku. Selanjutnya surat-surat ini akan kubuang. Aku hanya berharap suatu saat ada orang yang menemukan kemudian ia membaca dan membuangnya kembali. Sampai berkali-kali. Sampai surat-suratku tak terbaca dan menyatu dengan bumi. Kalau ini terjadi, bagiku sudah cukup aku bermimpi kita bisa bersatu kembali.
Saat aku tulis surat yang pertama, aku niati bahwa aku akan melakukan sandiwara untuk diriku. Maka aku memutusmu. Aku katakan padamu; Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Bunga. Kau telah layu setelah setiap malam percintaan kita selalu diakhiri dengan basah rambut. Aku sudah cukup menikmatimu. Kau sudah cukup basah. Aku ingin yang kering seperti saat pertama kau kubuat menangis, meratapi kejadian yang tak pernah kau alami.
Surat yang pertama selanjutnya kutaruh di bangku reot, tempat di mana pertama kali kau menatapku dengan penuh kebencian. Aku ingat, saat itu airmatamu jatuh menimpa bangku reot itu. Bangku tua yang tersudut di taman alun-alun kota. Saat kutaruh surat Ini aku membayangkan orang yang menemukan suratku adalah anak-anak yang tengah mengisi hari sorenya dengan ibunya. Saat anak itu menemukan surat ini ia pasti akan bergembira, mengharap apa yang terisi di dalam amplop putih itu adalah uang. Anak itu akan berteriak, "Aku menemukan uang".
Ibunya akan merebut sambil berbohong, "Kau masih tidak boleh membuka amplop itu. Amplop ini isinya surat, bukan uang" Dengan cemberut anak itu menyerahkan apa yang baru ditemukannya.
"Isinya surat apa, Bu?" anak itu bertanya setelah ibunya selesai membuka dan membaca suratku ini.
"Cinta"
"Apa itu cinta, Bu?"
"Kau belum boleh tahu, Nak."
"Kalau begitu apakah boleh aku minta kertas-kertas yang isinya cinta itu, Bu!"
"Untuk apa?"
"Membuat pesawat kertas untuk mainan."
"Bagus itu, biar Ibu yang membuatkan."
Jadilah tulisan-tulisan cintaku menghias sayap, tubuh, dan kepala pesawat kertas mainan itu. Pesawat kertaS itu di lempar ke sana-ke sini, terbang kian-kemari, sampai akhirnya terdampar di ranting pohon beringin.
"Sudah mari kita pulang, Nak. Memang pantas nasib pesawat kertas itu di sana. Biar hancur oleh hujan."
Aku terhenyak mengembangkan lamunanku. Betapa sia-sia aku menulis surat cinta untukmu, Bunga. Ternyata perasaan cintaku tak bisa menaklukan orang lain. Padahal jelas, dalam surat yang pertama aku juga menulis alasanku untuk meninggalkanmu; Aku tak kuasa percintaan kita dilanjutkan. Kita ditakdirkan saudara, Bunga. Ayahmu ayahku juga. Lelaki bejat yang setelah menitipkan bibitnya kemudian pergi menghilang. Aku kaget saat mendapati foto ayahmu yang tak sengaja kau simpan di buku harianmu. Lelaki dalam foto itu sama dengan lelaki dalam foto keluargaku. Tapi entah di mana dia sekarang. Setelah aku menginjak bangku SD lelaki itu menghilang. Beruntung kau belum pernah berkunjung ke rumahku yang terpencil. Aku berharap, Bunga, semoga kau sampai saat ini belum mengetahui rahasia ini. Seandainya kau tahu, pasti kau tidak akan memaafkan dirimu sendiri. Sama seperti diriku saat ini, ingin sekali membunuh lelaki itu. Dan bila melihat diriku di cermin, rasanya aku ingin juga membunuh diriku sendiri.
2.
Bunga, pada suratku yang kedua, aku kisahkan hidupku setelah kita berpisah. Hidupku terasa telah mati. Aku selalu membayangkan di dunia yang kedua kita tak juga bisa untuk bersatu kembali. Padahal kita telah berjanji, bila di dunia kita tak bersatu, kita berkeyakinan di alam baka bisa terus bertemu. Bunga, kau akan hidup di surga, sedangkan aku di neraka. Ini karena kau tak mengerti dengan apa yang telah aku lakukan padamu. Kau tak berdosa dengan persetubuhan kita. Kau melakukannya dengan rela, sedangkan aku memaksa. Kau atas nama cinta, sedangkan aku atas nama birahi membara. Tapi, kau harus tahu, birahi dan cinta bagi lelaki hampir tak ada bedanya.
Setelah surat yang kedua ini kumasukan dalam amplop putih dan kutulis buat Bunga, sama seperti surat pertama. Tapi, pada suratku yang kedua aku sengaja memesang foto kita, sedangkan yang pertama tidak. Aku letakan surat itu di bawah pohon randu yang tinggi, rindang, dan menjulang. Ini tempat kenangan kita. Di tempat ini aku pertama merayumu, memujamu, sampai timbul hasratku untuk memperkosamu. Dan hampir saja terjadi, untunglah, ulah anak kecil yang suka iseng mengintip itu mengagetkan hasratku. Tapi, di tempat ini aku nyata merasakan dan menyaksikan keindahan tubuhmu. Aku tak akan melupakan itu, Bunga. Ternyata keindahan tubuh perempuan yang dicintai itu 1000 kali indahnya dari tubuh perempuan yang kadang kusaksikan dalam film porno. Pantas saja, berawal dari nonton film porno, anak-anak remaja akhirnya memperkosa pacarnya. Padahal mereka baru anak-anak SMA. Apalagi aku padamu, Bunga. Bisa kau bayangkan betapa bernafsunya aku pada tubuhmu yang seksi menarik itu.
Setelah aku letakan surat ini di bawah pohon randu, aku membayangkan anak kecil yang pernah menggagalkan niatku untuk memperkosamu akan menemukan surat ini.
"Ada surat, Kak," anak kecil itu berteriak pada kakaknya.
"Sini, biar aku yang membuka, kamu masih kecil tidak boleh membaca surat."
"Memangnya itu surat apa, Kak?"
"Ini pasti surat cinta."
"Surat cinta itu apa, Kak."
Lelaki berusia belasan tahun itu tak membalas pertanyaan adiknya. Ia membaca dengan cermat surat itu.
"Isinya apa, Kak?"
"Kau belum boleh mengerti."
"Tapi, itu foto siapa, Kak?"
"Kakak tidak tahu, apa kau mengenal orang ini."Anak kecil itu mengerutkan keningnya.
"Apakah kau mengenalnya?"
"Aku pernah melihatnya di bawah pohon ini, Kak. Tapi, aku tidak tahu mereka itu siapa."
"Itu namanya kamu tidak mengenal, Bloon."Anak kecil itu nyengir dihina kakaknya. "Ayo kita lanjutkan perjalanan mencari kambing-kambing kita."
"Tapi, Kak. Boleh aku menjadikan surat ini sebagai perahu kertas."
Diberikannya surat itu pada adiknya. Kemudian anak kecil itu secepat kilat melipat-lipat kertas itu menjadi perahu. Dilabuhkannya perahu kertas itu beserta foto sepasang kekasih itu pada sungai yang deras mengalir.
"Hore…, perahunya melaju cepat," anak kecil itu berteriak girang tentunya.
Tapi, tidak berapa lama kemudian perahu kertas itu hanyut dan tenggelam terbawa arus.
"Kak, perahunya hanyut tenggelam. Kenapa, ya?"
Pertanyaan anak kecil itu seakan-akan nyata dan mengagetkan lamunanku. Ah, Bunga, betapa nasib percintaan kita ditakdirkan hancur. Terus apa yang masih kutunggu darimu, Bunga. Aku tahu kalau kita sudah tidak bisa bersatu, tapi kenapa aku masih berharap keajaiban. Terkadang masih ada hasratku untuk menolak kenyataan. Saat itu anganku akan menghadirkanmu yang tiba-tiba datang dan mengatakan padaku, "Apa yang terjadi pada kita bukan takdir, Raka. Kita memang saudara, tapi cinta tak menghendaki persaudaraan kita. Haruskah kita menanggung salah dari lelaki yang telah jadi ayah kita! Tidak, Raka. Cinta kita lebih berharga dari bapak kita. Lebih mulia dari norma dan agama. Kau tahu itu, Raka… "
Tidak!!! Aku berteriak keras memecahkan malam yang mulai menjaring bumi. Aku tidak bisa, Bunga. Aku hanya akan memberimu doa, semoga kau tidak akan tahu dengan rahasia ini. Aku lebih baik dibenci olehmu daripada kau tahu rahasia kita yang pilu dan menjijikan.
Dalam tidur malam ini aku dihantui oleh pesawat dan perahu kertas yang nasib naas. Terdampar dan hanyut yang berujung pada kehancuran yang diakibatkan oleh ulah anak kecil. Ini memupus impianku tentang suratku yang kuharap akan dibaca banyak orang. Aku berharap pada suratku yang ketiga bayanganku bisa indah, surat terakhirku paling tidak akan berharga bagi orang yang menemukannya.
3.
Pada suratku yang ketiga ini, aku menuliskan keputusanku yang bulat; Aku akan pergi jauh, Bunga. Aku sudah tidak sanggup lagi dihantui oleh perasaan terluka seperti ini. Selamat jalan, Bunga.
Kau ingat tempat pertama kali kita bertemu, Bunga, sebuah halte yang saat langit mengurai airnya lewat hujan, kau dan aku sama sedang menunggu Bus Kota. Tapi dasar negeri kita amburadul, demo berkali-kali terjadi. Dan hari ini giliran para supir protes dengan kenaikan BBM yang ingin diikuti kenaikan tarif. Ah, celaka kita akibatnya, tersudut di halte dengan di kepung hujan yang amat deras. Hujan pertama yang menakhiri musim kemarau.
"Maaf, di rambut Nona ada kotorannya, boleh kuambil," kataku. Kau diam menyilahkan, dan aku mengambil kotoran itu. Sejak saat itu kita terlibat pembicaraan yang sengit dan jadi kita sering buat janjian di halte ini. Sampai kita sepakat untuk menjalin percintaan.
Bunga, suratku yang terakhir untukmu akan aku letakan di kursi halte yang telah menjadi saksi perjumpaan kita. Aku membayangkan kalau suratku yang terakhir ini akan ditemukan seorang pemulung. Oleh pemulung itu suratku akan disimpan karena sepanjang hidupnya ia baru menemukan kertas yang indah dengan tulisan yang indah. Ah, aku akan senang. Betapa ternyata ada yang terselamatkan dari miliku yang paling berharga. Surat cinta untukmu, Bunga.
"Kenapa kau tidak membuka surat itu, Pemulung? Bisa saja isinya uang kan," kawan si anak pemulung mempotes.
"Tidak. Aku yakin surat ini isinya soal cinta. Dan kata guruku, cinta itu berharga, lebih berharga dari dunia, maka aku harus menjaganya.""Siapa gurumu itu pemulung?"
"Guruku sangat cantik, ia Ibu guru yang tengah gagal soal cinta.""Harusnya kamu tak usah peduli kata-katanya.""Tapi itu benar, karena aku juga sekarang tengah mengenal cinta"
"Dasar edan."
Bunga, aku tak bisa membayangkan percakapan si pemulung itu. Aku takut kalau Ibu gurunya yang cantik adalah kamu. Bukankah kau pernah bercerita padaku bahwa cita-cita tertinggimu adalah menjadi guru untuk para anak-anak terlantar.
4.
Pada suatu pagi sebuah surat kuterima dari tukang pos. Itu surat darimu, Bunga. Dalam suratmu yang singkat kau menulis, "Kenapa kau memperlakukanku seperti ini. Aku membencimu sepenuh hati?" Terimakasih, Bunga. Aku sungguh bahagia dengan suratmu. Semoga kau selamanya tidak akan tahu dengan rahasia ini. Hari ini aku akan bunuh diri.
Selamat jalan, Bunga…***

Senin, 17 September 2012

Para Jin Unjuk Rasa




Lampung Post
Minggu, 02 September 2007

Para Jin Unjuk Rasa
Cerpen: Ahmad Syam

Saya baru akan memulai pelajaran pertama tatkala seorang siswa mengetuk pintu kelas. Saya membuka pintu dan menemuinya.

"Ada apa?"

"Anu, dua siswa-siswi kelas satu kesurupan, Pak!"

"Kesurupan? Kenapa bisa?"

"Aku juga kurang tahu, Pak! Tetapi Bapak diminta menolong siswa-siswi yang kesurupan itu!"

"Loh, kok saya yang dimintai tolong? Katakan kepada wali kelasnya bapak tidak pernah mengatasi orang kesurupan sebelumnya! Bapak tidak bisa membantu!"

"Baik, Pak!"

Tanpa sedikit pun terpengaruh dengan peristiwa tersebut, saya kembali melanjutkan pelajaran. Namun, ketika akan memulai menjelaskan pokok bahasan hari ini, tiba-tiba seorang siswa lainnya datang. Kali ini ketua organisasi lembaga pelajar di sekolah, si Andi.

"Ada apa lagi, Di?" tanya saya.

"Aku disuruh bapak kepala sekolah menemui Bapak!"

"Tentang siswa-siswi yang kesurupan itu juga?" tanya saya lagi.

"Benar, Pak! Jumlah siswa-siswi terus bertambah. Kini seluruh siswa-siswi dalam kelas yang jumlahnya empat puluh orang kesurupan. Mereka menjerit-jerit. Menangis sekeras-kerasnya. Membentur-benturkan kepala ke tembok. Berguling-gulingan di lantai. Malahan, seorang siswi membanting semua kursi dan meja yang ada dalam kelas. Jika ada yang mencoba memegangnya, dia meronta-ronta melepaskan diri. Dia menghardik, menyerang, menendang, menempeleng, dan menjambat rambut siapa pun yang berusaha mendekat!"

"Baik, Nak! Katakan kepada bapak kepala sekolah saya akan segera menyusul ke sana," ujar saya memotong Andi cepat-cepat karena tidak tahan mendengar kisahnya lebih banyak.

Selama dua puluh tahun saya mengabdi sebaga guru di sekolah ini baru kali ini ada kejadian siswa-siswi kesurupan. Tidak tanggung-tanggung pertama terjadi langsung dalam jumlah besar.

Hal itu tentu saja membuat pihak sekolah kelabakan. Dan, sayalah yang dianggap mumpuni mengatasi kejadian tersebut. Pertimbangannya, karena saya seorang guru agama yang mengerti hal-hal gaib.

Tentu saja saya mengelak dan mengusulkan supaya memanggil orang yang sudah biasa menghadapi hal demikian. Saya jelaskan kepada kepala sekolah dan seluruh guru yang hadir saat itu bahwa saya bukanlah orang yang tepat meski pernah melihat bagaimana orang kesurupan dihadapi dan diobati.

***

Peristiwanya masih dulu sekali di kampung istri saya di sebuah desa kecil di Jawa. Seorang anak yang sedang bermain di dekat kuburan tua, tidak jauh dari pohon asam yang telah berumur puluhan tahun, tanpa tahu kenapa tiba-tiba mengelepar-gelepar di tanah. Dia menjerit dan meraung sangat kuat. Teman sepermainannya datang mengabarkan kepada orang tuanya dan warga desa.

Si anak kemudian dibawa ke balai desa dan salah seorang warga bergegas memanggil orang pintar, seorang dukun kampung. Warga desa sering memanggilnya Mbah Tumi. Dia terkenal bukan saja di desanya tetapi sampai ke desa-desa tetangga. Seluruh warga desa mempercayainya akan sanggup mengusir roh jahat yang dianggap sering masuk ke jasad warga.

Dalam kepercayaan orang-orang di kampung istri saya saat itu, sebenarnya roh jahat yang masuk ke dalam jasad warga berasal dari roh leluhur yang biasa disebut "Mbah". Mbah itu meninggal beberapa puluh tahun yang lalu. Dia dikuburkan di dekat pohon asam itu.

Masih menurut cerita orang di kampung istri saya, si mbah itu dikenal sakti. Karena itu, ketika dia meninggal rohnya tidak sampai ke langit. Entah mengapa rohnya tertahan di pintu langit. Roh tersebut kemudian gentayangan yang sewaktu-waktu berubah wujud menjadi kelelawar yang terlihat di pohon asam pada malam hari. Terkadang juga masuk ke jasad warga.

Begitu Mbah Tumi mulai beraksi dengan membaca mantra-mantra seraya menjepit ibu jari kaki si anak dengan kuat, kontan mata si anak melotot ke arahnya. Tatapannya begitu tajam dan menyala. Tetapi Mbah Tumi yang sudah terbiasa itu terlihat tidak gentar. Tidak lama kemudian, perlahan dia mulai dapat mengatasi hingga berlangsung dialog diantara keduanya.

"Siapa kamu?" tanya Mbak Tumi.

"Apa perlunya kamu menanyakan itu, heh!" katanya lantang dengan suara serak, menyerupai suara kakek-kakek.

"Jangan banyak bertingkah, cepat kamu keluar dari jasad anak ini!" perintah Mbah Tumi tidak kalah lantang.

"Kalau saya tidak mau keluar!"

"Apa yang kamu inginkan? Anak ini tidak bersalah!"

"Siapa bilang tidak bersalah. Dia nakal karena selalu bermain di sekitar rumahku!"

"Di mana rumah kamu?"

"Ah, kamu bertanya segala lagi. Puih! Apa kamu pura-pura tidak tahu?" katanya dengan nada sinis .

Dialog antara Mbah Tumi dengan roh dalam jasad anak itu berlangsung lama. Tetapi, bukan Mbah Tumi jika tidak berhasil memenangkan pertarungan tersebut. Mbah Tumi lalu menyarankan warga desa untuk merawat kuburan tua dan pohon besar itu. Membersihkan dari daun-daun kering yang jatuh. Memagarinya supaya anak-anak mereka tidak lagi memasuki wilayah itu untuk bermain.

Saat itu, saya setengah yakin setengah tidak dengan kepercayaan itu. Namun, semenjak saya mendapat kesempatan mempelajari agama lebih banyak di perguruan tinggi saya kemudian menolaknya sama sekali.

Masak ada roh gentayangan? Hakikatnya semua roh yang telah berpisah dengan jasadnya akan kembali kepada pemiliknya, yakni Tuhan. Lagi pula sangat tidak pantas jika roh manusia yang mulia itu berubah menjadi kelelawar atau sejenis binatang lainnya.

Menurut saya, sesungguhnya bukan roh jahat yang masuk ke tubuh warga kampung melainkan sebangsa jin yang berperilaku jahat.

"Kok, ada jin yang senang berperilaku jahat?" tanya seorang warga sekembali saya ke kampung setelah menamatkan kuliah.

"Karena ada juga jin yang baik!" jawab saya datar.

"Kalau ada jin baik, kenapa harus ada jin yang jahat?" tanyanya lagi.

"Sebenarnya tidak pantas disebut jin jahat. Jin-jin itu pada dasarnya sama dengan manusia. Ya sama-sama ciptaan Tuhan. Mereka juga terdiri atas jenis laki-laki dan perempuan sehingga mereka bisa kawin dan beranak pinak. Para jin itu menetap di mana saja. Bisa di pohon-pohon besar, di gedung-gedung bertingkat, di hutan ataupun di kota. Di rumah-rumah kita juga banyak jin yang numpang tinggal, hanya saja kita tidak melihatnya. Bahkan, mereka juga bisa menetap dalam tubuh kita. Kelebihan jin dibanding manusia karena mereka bisa mengubah diri mereka menjadi apa saja. Bisa kelelawar, kerbau, kuda, pokoknya apa saja!" urai saya panjang lebar.

"Tetapi kenapa jin itu sering iseng atau nakal kepada manusia? Apa mereka kurang kerjaan?"

"Saya kira bukan itu masalahnya! Sebagai sesama makhluk jin juga mendambakan hidup damai dan berdampingan secara baik-baik dengan manusia. Kalau mereka banyak yang nakal dan menganggu kehidupan manusia jangan-jangan justru manusia yang lebih dahulu iseng mengusik kehidupan mereka!"

"Lalu bagaimana dengan cerita roh gentayangan?"

"Menurut saya, ya, itu jin yang menyerupai jasad manusia yang telah meninggal!"

***

Meski para guru dan siswa lainya sedikit kewalahan, semua siswa-siswi yang kesurupan sudah berhasil ditenangkan. Memang sulit dipercaya dengan akal sehat bila seseorang kesurupan. Bayangkan, seorang siswi mampu melepaskan diri dari beberapa guru pria yang mencoba menenangkannya. Siswi tersebut seperti memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan lima orang guru pria.

Saya mengumpulkan keberanian untuk mengusir jin-jin dalam tubuh siswa-siswi. Akhirnya dengan susah payah saya mampu meyakinkan diri dapat melakukannya. Tetapi saya tidak mungkin mengobati satu per satu siswa-siswi yang kesurupan sebab akan mengambil waktu yang lama. Mungkin diperlukan waktu berjam-jam jika saya mengatasi jin-jin yang berada dalam jasad empat puluh siswa-siswi.

Saya lalu mengelilingi mereka semua yang kini dibaringkan di aula. Setiap siswa atau siswi dipegangi sekurangnya lima orang. Saya sengaja berkeliling dengan harapan menemukan wajah siswa-siswi paling merah, marah, dan beringas. Biasanya, bos jin berada pada tubuh yang paling kuat meronta-ronta.

Tetapi dengan cara demikian saya masih mendapatkan kesulitan. Hampir semua siswa-siswi yang kesurupan menujukkan wajah yang sama. Wajah penuh amarah. Memandang dengan sinis. Sorot mata yang tajam. Dan, dari mulut mereka semua keluar suara-suara seperti sedang mendesis.

Menyaksikan hal tersebut nyali saya kembali turun. Saya sudah mundur kalau saja bukan faktor kasihan melihat siswa-siswi itu. Belum lagi bila menatap wajah kepala sekolah dan guru-guru yang begitu menaruh harapan besar kepada saya.

Sekali lagi saya mengumpulkan keberanian dan perlahan mendekati salah seorang siswi. Dia dipegangi lima orang. Tangannya yang terentang dijaga oleh dua orang. Begitu pula pada kakinya terdapat dua orang. Satu orang lagi berjaga-jaga di bagian kepala kalau-kalau dia berusaha bangkit.

Begitu jarak saya dengannya berkisar setengah meter, siswa tersebut meludah ke atas dan tepat mengenai wajah saya. Dugaan saya, inilah cara jin yang berada dalam jasad memancing kemarahan sehingga konsentrasi saya terganggu.

Saya membaca doa-doa dan menjepit ibu jari kakinya dengan kuat. Tidak lama kemudian jin dalam jasad siswa mau angkat bicara.

"Aku dan teman-temanku tidak akan keluar sebelum tuntutan kami dipenuhi!" katanya dengan suara serak dan begitu emosional.

"Apa tuntutan kalian? Kalian salah karena menganggu siswa-siswi yang tidak bersalah ini!"

"Tetapi manusia yang lebih dahulu mengusik kami! Masak kami diburu-buru!"

"Siapa yang memburu kalian?"

"Itu para tim pemburu jin. Bahkan yang lebih menyakitkan karena manusia menyajikannya lewat sebuah tayangan langsung di sejumlah televisi swasta!"

"Kalau begitu kalian salah alamat! Ganggu saja manusia-manusia yang memburu, menangkap, dan memasukkan sebangsa kalian dalam TV untuk kepentingan komersil!" tegas saya yang seketika itu teringat istri dan anak-anak. Bukankah itu tayangan yang mereka tunggu-tunggu setiap malam?***

Salatiga-Canberra, 2005-2006

Minggu, 02 September 2012

CERPEN : Basa - Basi


Basa-basi
Cerpen: Dodiek Adyttya Dwiwanto

"Adrian, kan?" tanya seorang lelaki paruh baya seraya menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

"Iya," jawabku rada gagap. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa nih Om-Om!

"Lupa ya sama Om?"

"Eeeh?"

"Saya Om Supardi. Tetangga, persis di depan rumah kamu. Dulu 'kan kita bertetangga 15 tahun yang lalu. Lupa ya?" tanyanya lagi sembari mengingatkan memori otakku yang rada lamban untuk mengenali wajah dan nama seseorang.

"Eh, nggak Om. Cuma kaget aja. Sudah lama tidak ketemu jadinya pangling," jawabku mengelak persis bajaj yang suka salip sana sini.

"Om kira kamu lupa. Masa' masih muda sudah lupa?"

"Ah, nggak dong Om," kilahku lagi.

"Papa dan mama kamu mana?"

"Papa sakit, Om. Mama sedang menemani papa. Jadinya ya saya yang mewakili papa dan mama ke mantenan Tommy dan Tita ini."

"Oh, begitu."

"Kuliah di mana sekarang?"

"Sudah lulus, Om. Enam tahun yang lalu dari Teknik Industri ITB."

"Oh, sudah lulus. Terus sekarang kerja di mana?"

"Jadi fotografer majalah fashion, Om."

"Lho, kok nggak nyambung?"

"Namanya cari uang, Om. Apa saja dikerjakan," ucapku sambil mutung. Mau tahu saja nih urusan orang!

"Istrinya nggak dibawa?"

"Jangankan istri, pacar belum punya Om."

"Lho, kenapa? Kan sudah bekerja, tunggu apalagi? Kasihan papa sama mama kamu lho? Nggak pengen nyusul Tommy dan Tita?"

"Nanti deh, Om."

"Ya, sudah. Eh, kamu salaman dulu sama Tommy dan Tita. Biar ketahuan kalau kamu datang. Ngobrolnya nanti dilanjutkan ya."

"Iya, Om."

Aku segera melangkah menuju pelaminan untuk menyalami Tommy dan Tita. Sahabat sekaligus tetangga yang tengah berbahagia hari ini. Seharusnya papa dan mama juga hadir dalam resepsi ini tapi sayangnya mereka berhalangan, jadilah aku ketiban apes untuk datang ke tempat ini sendirian.

Saat bersalaman dengan orangtua dari kedua mempelai, yang kebetulan aku telah mengenal sejak lama, pertanyaannya sama. Kok, kompak begitu sih? Sudah janjian ya? Kapan menyusul Tommy dan Tita? Halah, memangnya ini balapan? Harus saling menyusul? Ini 'kan masalah rezeki dari Tuhan. Kalau aku belum dijodohkan dengan perempuan cantik dan seksi, ya aku anggap Tuhan Yang Maha Kuasa belum memberikan restu. He-he-he.

Tadi sebelum bersalaman dengan mempelai dan kedua orangtua, aku baru saja bertemu dengan Om Supardi, tetangga lama yang kini menetap di Bogor. Bete kalau bertemu dengan tetangga atau sahabat lama yang sudah belasan tahun tidak bertemu, pasti pertanyaan seputar itu-itu saja. Pasti dibuka dengan kuliah di mana? Walah, sudah setua ini masih dianggap kuliah? Aku sudah lulus lebih dari enam tahun lalu. Masa sih mereka tidak menyadarinya kalau aku juga sesuai mereka atau anak-anak mereka. Kalau ditanya kapan kuliah S-2 atau S-3 ya tidak apa-apa. Masak usianya hampir menjelang kepala tiga masih harus S-1? Itu sih bukan mahasiswa abadi atau bodoh, mungkin lebih tepat dibilang idiot!

Kalau pertanyaan kuliah di mana sudah terjawab, pasti pertanyaan selanjutnya adalah kerja di mana? Kalau jujur dengan mengatakan pengangguran, pasti ditanya lagi kenapa kok sarjana menganggur? Kalau dijawab bekerja secara freelance dianggap tidak laku bekerja kantoran. Seandainya menjawab bekerja di kantor ini atau itu, pasti ditanya lagi, jadi apa? Kalau hanya staf, pasti dicecar lagi, kapan jadi manajer atau minimal asisten manajer? Halah, cape deh!

Pertanyaan pekerjaan adalah batu loncatan sebelum bertanya sudah menikah belum? Seandainya jujur mengatakan lagi jomblo, pasti dibilang ganteng-ganteng kok jomblo? Terlalu pemilih ya? Kelewat sibuk bekerja ya? Serba salah! Apalagi kalau dijawab sudah punya pacar pasti langsung skak mat, ditanya kapan menikahnya? Tidak kasihan dengan papa mama yang mungkin ingin menimang cucu? Teganya, kalau anak orang dipacari tanpa pernah sekalipun diajak menikah? Walah, kayaknya nggak pertanyaan lain apa ya?

Kalau sudah menikah, pasti pertanyaannya berlanjut dengan kapan punya momongan? Kalau belum punya, disudutkan dengan pertanyaan, jangan suka menunda! Kalau sudah punya satu anak, lagi-lagi masih ada pertanyaan lain, kapan si kecil dikasih adik? Masak hanya punya satu anak sih? Nggak kasihan melihat si kecil jadi anak tunggal? Nanti si kecil jadi manja lho! Aduh, kenapa harus selalu dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?

Usai bersalaman, aku mengarahkan pandangan ke sekeliling. Mau makan apa ya? Makan salad saja deh sebagai pembuka. Nggak nyambung, nggak apa-apa. Aku segera menuju ke tempat di mana salad tersaji. Aku mengambil secukupnya dan berdiri di tempat yang tidak mengganggu orang. Saat asyik menikmati salad, mendadak bahuku ditonyor seseorang.

"Hai, Adrian. Asyik bener makannya?" tanya pasangan Citra dan Farrell berbarengan.

"Hai, Citra! Halo juga Farrel! Apa kabar?"

"Baik. Kamu sendirian aja?" tanya Citra

"Iya."

"Istri nggak dibawa?" cecar Farrell

Gedubrak! Pasti pertanyaan itu akan selalu muncul. Please deh, ada nggak sih pertanyaan yang lain?

"Belum punya istri!"

"Nggak punya istri, tapi pacar seharusnya dibawa dong!" sindir Citra dengan halus.

"Belum punya juga."

"Aduh, bapak Adrian yang superganteng kok masih jomblo sih?" cibir Farrell.

"Maklum deh, masih sibuk!"

"Lho, sekarang kerja di mana?" tanya Farrell.

Tuh, kan pertanyaannya pasti muncul. Semua pertanyaan tadi pasti terlontar, entah mana yang muncul pertama kali atau terakhir kali sudah tidak bisa dipungkiri pasti ada kan? Mati gue!

"Sekarang jadi fotografer majalah fashion!"

"Lho, kamu kan dulu di Teknik Industri ITB. Kok, nggak nyambung gitu sih?" tanya Citra keheranan.

"Rezeki sudah diatur Tuhan, Ibu Citra."

"Memotret apa aja sih?"

"Sudah pasti model-model untuk majalah. Rubrik fashion. Sesekali ada sesi pemotretan untuk lingerie dan bikini. Bapak Farrell mau ikut lihat model-model top hanya memakai g-string? Kadang ada yang topless lho!" balasku sambil melirik ke arah Citra.

"Adrian, jangan coba-coba ya menjerumuskan suamiku ya," ujar Citra sambil cemberut.

Aku terkekeh saja.

Usai berbincang dengan Citra dan Farrell, aku menjelajah ruangan yang dipakai resepsi ini, mencicipi hidangan yang tersedia. Aha, ada lontong cap go meh kesukaanku.

Asyik menikmati lontong cap go meh, bahuku ditepuk seseorang.

"Adrian, apa kabar? Masih ingat sama Om Hadi?" tanya seorang bapak seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Masih Om. Kayaknya Om Hadi tambah keren nih," jawabku sambil berbasa-basi.

"Papa dan mama kamu mana?"

"Papa sakit Om. Mama sedang menemani papa. Jadi saya mewakili mereka."

"Oh, begitu. Sekarang kamu kuliah di mana?"

Mati gue!

"Sudah lulus Om dari ITB."

"Wah, hebat ya? Terus sekarang kerja di mana?"

Gedubrak!

"Sekarang jadi fotografer majalah fashion Om!"

"Waduh, enak dong, bisa ketemu perempuan-perempuan cantik. Wah, pasti istri kamu foto model dong?"

Halah!

Tuh, kan pasti pertanyaan itu muncul!

"Belum punya Om."

"Masa belum punya?"

Kalau aku sudah punya istri, sudah pasti orang akan tahu! Masak sih kalau aku menggelar pesta pernikahan, orang-orang tidak akan diundang. Semua teman, sahabat, kolega, tetangga sudah pasti akan mendapatkan undangan. Setidaknya dengan selembar undangan itu, mereka tahu dengan statusku yang tidak lagi sendirian alias sudah beristri! Wah, banyak orang yang tidak paham. Dasar orang Indonesia!

"Belum Om, saya belum punya istri!"

"Tapi pasti pacar kamu model 'kan? Atau peragawati?"

"Belum punya pacar Om!"

"Adrian, Adrian, kamu memang dari dulu suka bercanda! Nanti kalau ada fotomodel cantik kasih tahu Om ya? Siapa tahu mau jadi istri muda Om!" canda Om Hadi seraya terkekeh dan meninggalkan aku.

Tidak punya pacar dibilang bercanda? Dasar playboy tua ajaib! Aku jujur dengan mengatakan tidak punya pacar eh dibilang bercanda. Terserah deh mau ngomong apa tentang aku, yang penting aku selamat juga dari sederetan pertanyaan basa-basi itu.

Aku jadi malas bertemu orang yang aku kenal di ruangan ini, pasti mereka akan bertanya yang itu-itu saja kepadaku. Bete banget sih hari ini.

Aku melangkah menuju tempat es krim. Di sana lebih banyak anak kecil ketimbang orang dewasa yang mungkin mengenalku.

Menikmati es krim seorang diri sambil sedikit melamun, aku dikejutkan seseorang dari masa silamku.

"The man who loves ice cream."

Busyet! Aku mengenal suara itu. Jangankan suaranya, semuanya aku mengetahuinya, sifatnya, perilakunya, dan semuanya!

"Halo, Arini, apa kabar?"

"Baik-baik aja."

Kami lalu melakukan ritual cium pipi kanan dan kiri.

"Sudah lama banget ya?" tanya Arini basa- basi.

Aku berpikir sejenak, hmm lumayan deh. Sudah lebih dari empat tahun, hubungan percintaan kami balik kanan bubar jalan. Arini tidak terima dengan pekerjaanku yang harus bertemu dan memotret perempuan-perempuan cantik yang kadang dipotret tanpa mengenakan selembar kain untuk menutup aurat.

"Iya, sudah lama."

Aku berpikir mau tanya apa ya sama Arini. Sudah sekian lama aku tidak bertemu dengannya. Rutinitas pekerjaan membuat aku seringkali lupa dengan sosialisasi. Sekarang aku bertemu lagi dengan Arini, karena ia adalah sahabat lama dari Tommy, sedangkan aku pernah bertetangga dengan Tita.

"Kerja di mana sekarang?" tanyaku dengan bodohnya. Aku tidak suka ditanya orang, anda kerja di mana. Eh, sekarang aku malah melontarkan pertanyaan itu. Goblok!

"Masih di tempat yang dulu," jawab Arini dengan raut wajah penuh tanya. Mungkin ia senewen karena aku mengajukan pertanyaan yang superbasi! Atau bisa jadi ia bete karena aku tidak perhatian lagi dengannya. Masa sekadar cari tahu apa aktivitas dan kesehariannya, aku tidak bisa, mungkin itu yang ada dalam benak Arini.

Aku dan Arini terdiam lagi.

Aku bingung mau bicara apa ya? Bertanya di mana ia bekerja, sudah dijawab? Tanya apa lagi ya? Apakah ia sudah punya pacar lagi? Atau ia sudah bersuami atau mungkin malah sudah memiliki anak? Aduh, kenapa pertanyaan itu? Aku tidak suka dengan pertanyaan itu, terus kenapa aku harus melontarkan pertanyaan yang sama?

Tidak kreatif sekali aku ini, batinku sambil mengutuk kebodohan diriku.

Aku masih memakan es krim sambil terus memikirkan pertanyaan apa yang harus aku tanyakan kepada Arini. Ya, sekadar basa-basi deh. Kok, jadi buah simalakama sih?

"Kamu...?"

"Apa?" ucap Arini balik bertanya

"Eh, jadi lupa!"

"Kamu mau tanya apa? Aku sudah menikah atau belum? Aku akan menjawab belum. Karena itu aku sudah pasti belum punya anak! Kamu mau tanya apalagi? Kalau aku sudah punya pacar atau belum? Sampai detik ini, aku belum menemukan pengganti kamu. Terus mau tanya yang mana lagi? Sejak dulu sampai sekarang, aku tetap bekerja di tempat yang sama. Aku cinta kantor. Kalau kamu mau tahu lagi, aku sekarang sudah jadi manajer senior di sana. Mungkin itu yang akan kamu tanyakan, aku sudah menjadi apa dan siapa di kantor. Ada lagi? Hmm, mungkin beberapa bulan lagi aku akan kuliah S-2 di UI. Siapa tahu kamu akan bertanya, aku akan lebih dulu menjawabnya!"

Aku terdiam sejenak mendengar uraian Arini.

"Kamu tuh nggak kreatif ya? Basa-basi banget! Kamu nggak suka kalau ketemu orang selalu ditanya, kapan selesai kuliah? Kerja di mana? Pacarnya siapa? Kapan kawinnya? Berapa anaknya? Kamu nggak suka kan? Kalau memang iya terus kenapa kamu mulai melontarkan pertanyaan seperti itu kepadaku. Aduh, Adrian yang ganteng, kamu kenapa sih?"

Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

Skak mat!***

CERPEN : Tubuhmu Bukan Tubuhku


Tubuhmu Bukan Tubuhku
Cerpen: Frigidanto Agung


Ketika tubuh memersepsikan kejadian yang telah kita alami. Tubuh telah memberi merespons pada apa yang kita lakukan. Tubuh memberi pertanda dengan gaya dan perilaku untuk memuat rangsangan dari luar hingga membentuk identitas kita. Melalui waktu, sekian tahun kita mengerti tubuh kita sendiri tetapi tidak dapat menjawab apakah tubuh sebenarnya? Kekuatan untuk mengerti hingga mencapai obyektivitas yang terdalam dari tubuh terjawab melalui sistematika rasional cara berpikir.

Subyektivitas menggerakkan tubuh dengan dasar keinginan memuat dinamika rasionalitas membentuk tatanannya. Bagaimana tubuh mengerti tentang masa depannya? Seperti meletakan mimpi dalam kegelapan, ruang tanpa cahaya. Tubuh sebagai alat permainan visual menjadi subyektivitas tersendiri sama ketika menyimak obyek lukisan Tommy F Awuy dalam pameran yang berjudul Gelembung yang diselenggarakan di Philo Art Space, Jalan Kemang Timur 90C, Jakarta Selatan. Realitas tubuh sebagai simbol untuk dibuat sebagai obyek permainan visual demikian kuat.

Gerak pada tubuh menjadi alat utama untuk mengerti dinamika obyektif apa yang dilakukan oleh orang lain untuk dimengerti, serta direspons oleh tubuh kita. Tommy memanfaatkan ini untuk membuat visualisasi tubuh dimengerti secara verbal. Melalui judul lukisan Salsa # 1 dan Salsa # 2, ukuran 120 x 90, akrilik di atas kanvas, 2007. Dua orang, laki-laki dan perempuan, menari, saling menempelkan tubuhnya. Membuat gerak langkah tarian salsa yang energik. Dua tubuh yang saling berpagut, seakan tidak dapat terpisahkan. Walaupun terlihat dalam satu judul, misalnya Salsa # 1, sudah menunjukkan satu gerakan bahwa dua orang sedang menari kedua tubuhnya saling menempel, tetapi yang lebih memvisualkan gerak tubuh tarian adalah sang laki-laki menopang tubuh si perempuan yang menggunakan satu kakinya untuk berdiri.

Melalui dua judul lukisan di atas visualisasi terhadap permainan tubuh begitu mendasar. Gerak tubuh memaknai apa yang diinginkan untuk membuat satu identitas yang dapat membuat visualisasi imajinatif. Latar lukisan yang menunjukkan bahwa nuansa imajinatif terhadap ruang yang di dalamnya terdapat tubuh itu tereduksi. Oleh sebab Tommy membuat latar lukisan sebagai permainan bidang warna. Menghadapkan dua penari pada ruang imajiner bentukan yang hadir di tengah nuansa yang riang dan ingar-bingar.

Judul lukisan salsa membawa pada ruang imajiner yang naratif. Simbol warna sebagai pencapaian atas nuansa ruang untuk pengendali dinamika keriangan tampak jelas. Di sana warna-warna yang dipakai Tommy cerah, warna muda yang menuntun pada keceriaan. Cenderung warna-warni membentuk bidang-bidang yang memberi nuansa bahwa jauh di sana masih ada permainan yang perlu diperlihatkan, baik dengan simbol warna atau penanda lain yang dibentuk dari bidang-bidang yang berwarna. Tommy membuat permainan dari lukisannya bukan dengan obyek tubuh-tubuh yang bergerak, tetapi juga warna yang dipakainya. Simbolik, menghadirkan nuansa ruang yang imajinatif.

Sedangkan pada lukisan dengan judul Bubbles #1 dan Bubbles #2 permainan terhadap tubuh sebagai obyek tambah leluasa visualisasinya. Tommy seperti mengajak pada realitas untuk melihat kedalaman tubuh sebagai obyek nyata. Melalui judul ini tubuh hanya menjadi obyek visual dari permainan gelembung sabun. Pada judul Bubbles #1, 280 x 140, akrilik di atas kanvas, 2007. Tommy menunjukkan bahwa dalam gelembung sabun yang ditiupkan dari sebuah pipa atau lingkaran yang terbuat dari benda bulat di tengahnya berlubang jika dimasukkan dalam busa sabun dan ditiup akan keluar gelembung-gelembung sabun. Jumlah gelembung keluar sesuai dengan kekuatan kita meniupkan air sabun itu.

Melalui bulatan-bulatan putih yang merepresentasikan gelembung sabun itu, Tommy memuat kejadian-kejadian gerak tubuh yang dinamis. Mulai dari tangan masuk saku, orang memainkan alat musik, seorang laki-laki sedang berciuman dengan perempuan dan bagian tubuh lainnya, seperti mata, kaki, serta tangan. Visualisasi realistik, tetapi menjadi permainan dalam ruang imajiner ini karena latar belakang yang dipermainkan Tommy melalui warna yang memberi khayalan tersendiri jika melihat obyek lukisan itu.

Pada judul Bubbles #1 Tommy F Awuy, yang juga seorang pengajar filsafat ini, memperlihatkan seorang perempuan dewasa meniup busa-busa sabun untuk membuat gelembung-gelembung sabun beterbangan. Gerak naratif yang nyata ini memperlihatkan bagaimana sesungguhnya tubuh membuat rangsangan pada sekeliling untuk menunjukkan aktivitas yang dimulai dari satu awalan, mengambil sabun dari satu tempat dan meniupkannya.

Lain dengan judul lukisan Bubbles #2, Tommy melukiskan anak-anak sebagai obyek, mulai dari bayi yang mulai merangkak dan bayi yang baru mulai duduk hingga anak-anak yang dapat meniupkan busa-busa sabun hingga membentuk gelembung-gelembung yang beterbangan di udara. Representasi gelembung dengan warna putih itu dipakai Tommy sebagai obyek melukiskan berbagai alat atau satu kejadian. Muatan tentang tubuh dengan berbagai kejadian yang dialaminya begitu kentara.

Begitu juga dengan obyektivitas yang ditunjukkan Tommy F Awuy ini, tubuh sebagai alat untuk membuat lebih kentara melihat kedalaman apa yang dapat dilakukan oleh tubuh itu sendiri adalah wilayah imajiner. Di mana Tommy harus melakukan rekayasa visual tentang tubuh untuk dijadikan obyek lukisannya. Meskipun obyek yang dilukiskannya itu datar, kurang mengentak secara emosional, tetapi simbolik. Memuat satu representasi. Bagaimana tubuh mengisi ruang-ruangnya melalui dinamika gerak.

Di mana letak simbolik dari obyek lukisan Tommy? Permainan terhadap obyek yang bernama tubuh, di sini tubuh hanya simbol untuk menunjukkan identitasnya di tengah lingkungan sosialnya. Tubuh-tubuh Tommy F Awuy juga terasing, berdiri dalam kesendirian. Seperti teralienasi dengan sekeliling. Subyektivitas Tommy dalam melihat tubuh sebagai alat untuk menyimak konsistensi sosialnya di tengah arus sosial yang menyelubungi diri hingga membuat runtuh identitas, dengan kebangkrutan persona baik secara mental atau ideologis dan material. Memuat dinamika tubuh memasuki ruang kendali hidup menjadi nyata. Bahwa tubuh adalah representasi, ada, dalam ruang masing-masing. Hingga menyiratkan tubuhmu bukan tubuhku, secara sosial, tubuh juga membuat alienasi terhadap pengertian tubuh kita sendiri pada lingkungan sosial, alienasi tentang tubuh satu dengan tubuh yang lain begitu kuat dalam karya-karya ini.

Tubuh sebagai pusat kesemestaan gerak hidup dijadikan obyek oleh Tommy F Awuy sebagai permainan visual yang menyiratkan bahwa tubuh dapat menjadi asing dalam hidup, tubuh hanya menyimak sekeliling melalui rangsangan yang ada. Seperti judul lukisannya, Good Morning, Miss... 120 x 90, akrilik di atas kanvas, 2007. Seorang perempuan berdiri sendiri menatap cakrawala yang berwarna-warni dikelilingi kura-kura. ***